Krisbow, kualitas murah merek Indonesia

Perkembangan kebutuhan pasar sektor ekonomi menegah kebawah di Indonesia, mendorong penyedia perkakas teknik untuk berinovasi, terutama dengan tampilan toko yang modern dan strategis. Walaupun perusahaan segala ukuran jelas membutuhkan kelengkapan power tools yang berkualitas, bagi para pemula usaha maupun hoby, tidak semua yang memiliki dana maupun pengetahuan tentang kualitas produk yang akan dibeli. Untuk menjawab tantangan ini, Krisbow hadir di Indonesia dengan menawarkan berbagai peralatan teknik, perangkat rumah tangga, alat keselamatan, dan furnitur. Bagaimana Krisbow berkembang dan berkontribusi untuk Indonesia? Mengapa Krisbow yang terbaik? Simak penjelasannya berikut ini.

KRISBOW AWAL MULANYA DI INDONESIA

Merek dan Toko penyedia perkakas dan peralatan industri Krisbow menyediakan beragam perkakas, peralatan teknik, industri dan permesinan untuk para pelanggan di Indonesia. Sebenarnya, Krisbow merupakan sebuah merek dagang berbagai perkakas teknik, permesinan, pertukangan dan industri, perangkat rumah tangga, alat keselamatan, dan furniture yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia.

Sejarahnya, nama Krisbow diambil dari kependekan nama pengusaha plastik Krisnandi Wibowo. Krisnadi merupakan anak dari Pak Wong Jin, pendiri Grup Kawan Lama yang awalnya berdagang di kawasan Glodok, Jakarta. Ia merupakan adik dari Kuncoro Wibowo yang merupakan CEO GKL dan bos PT Ace Hardware Indonesia dan merupakan orang terkaya ke-19 di Indonesia versi Forbes dengan total kekayaan sekitar Rp15 triliun.

Merek dagang Krisbow ini masih berafiliasi dan merupakan bagian dari Grup Kawan Lama (GKL) yang diperkenalkan pada tahun 1998. Pada saat itu Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan barang asal China yang murah harganya terus meningkat.

Untuk kualitas, manajemen Krisbow menetapkan standar yang cukup tinggi. GKL memposisikan merek Krisbow sebagai produk yang berkualitas lebih rendah dibanding produk asing yang dijajakannya, dengan banderol rata-rata 30-40% lebih murah. Target pasarnya sendiri merupakan pelaku industri dan kalangan pehobi.

Menurut keterangan di laman resmi Krisbow.com, saat ini Kribow mampu menjawab segala jenis kebutuhan pelaku industri kecil dan hobi tukang rumahan. Untuk memudahkan konsumen, Krisbow membagi produknya ke dalam 24 kategori. Merek Krisbow ini tidak memiliki pabrik sendiri namun mengimpor barang dari pabrik-pabrik dari berbagai negara. Hingga 2017 Krisbow telah memiliki lebih dari 10.000 jenis produk perkakas dengan service center, layanan purna jual dan dealer yang telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia juga sebagian negara di Asia Tenggara.

Sejarah Kawan Lama sendiri dimulai pada tahun 1955 ketika almarhum Pak Wong Jin mendirikan toko perkakas sederhana berukuran 2×3 meter di Kawasan Glodok, Jakarta. Terus berkembang mulai periode 1970-an, bisnis keluarga ini menerapkan pendekatan yang lebih personal kepada para pelanggannya. Tidak hanya menunggu pelanggan datang tetapi langsung mendatangi mereka. Hubungan langsung dengan para principal di berbagai negara terus dibangun.

Tahun 1980, generasi kedua keluarga Wong Jin memformalkan usahanya dengan nama “PT Kawan Lama Sejahtera”. Tahun 1982-1990 merupakan era ekspansi besar-besaran dengan mengembangkan jaringan distribusi ke berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa anak perusahaan didirikan dengan spesialisasi memasok dan melayani kebutuhan-kebutuhan pasar yang sifatnya khusus. Toko pun pindah ke pusat pertokoan empat lantai di Glodok Jaya yang nyaman, dengan konsep one stop shopping.

KUALITAS SESUAI HARGA

Kenyataannya secara jujur, semua produk ‘krisBow’ berkualitas setara harganya. Merek Krisbow maupun Kris memang tergolong standar saja, terutama untuk produk turunan dengan komponen dari teknik produksi plastik blow molding seperti peralatan kebersihan dari tong sampah, ember pembersih maupun serangkaian produk plastik moulding maupun produk non-mekanis yang berteknologi sederhana.

Merek Krisbow memang diakui jempolan dari strategi retailnya. Krisbow menawarkan pengalaman berbelanja yang menarik karena calon pembeli bisa memegang perkakas yang ingin dibelinya dan mencari informasi dari staf penjualan yang akrab menyapa. Kemudahan untuk dibeli hampir disetiap mall dan kawasan strategis di kota Indonesia membuat barang dagang bermerek Krisbow maupun Kris, memiliki harga eceran diatas pasaran karena lokasi di mall plus nilai servis yang diberikan. Hal ini bisa kita lihat sendiri dengan banyaknya tenaga penjaga toko maupun tim sales counter yang siap untuk melayani pelanggan dan customer di setiap toko krisbow maupun toko Ace Hardware dan Kawan Lama, sister companynya.

Jika kita berkeliling pasar teknik terbesar di Indonesia, yaitu kawasan Glodok – Mangga dua, kita bisa mendapatkan solusi teknik yang serupa dengan Krisbow dari segi mode, spesifikasi dan bentuk namun dengan harga yang justru lebih menarik. Untuk beberapa alat kerja teknik, bila Krisbow di bandingkan dengan harga merek lain sebenarnya sudah terlalu kemahalan, tapi tetap saja bisa didapat dengan mudah karena toko tekniknya tersebar di banyak kota di Indonesia.

Sebenarnya, Krisbow (dan “Kris”) memang branding lokal saja dari berbagai macam produsen terutama asal Republik Rakyat China. Sama saja dengan merek pesaingnya seperti Kenmaster, Marco dan ratusan merek lain kompetitor sub-merek untuk alat perkakas tukang. Seringkali produk ‘private label’ atau produk ”label sendiri” ini siklusnya cepat, dan tipe tertentu tidak ada seri kelanjutan. Karena tidak memiliki kendali pada inti produksi, merek ini kualitas keterjaminan tipe selalu berubah sehingga kurang bisa diandalkan untuk pembelian berulang. Bila beruntung, pengguna bisa mendapatkan label ulang dari merek produsen tertentu yang masih buatan Taiwan dan Korea maupun Thailand, namun barang dengan tipe yang sama mungkin hanya memiliki masa peredaran yang terbatas. Ketika stok habis, jenis barang yang diminati tersebut tidak bisa dibeli kembali atau sudah diganti dengan barang lain dengan label yang sama namun dengan kualitas yang berbeda jauh.

ADA RUPA ADA HARGA

Sistem manufaktur OEM di China daratan memang memudahkan siapapun pemodal untuk membeli dalam jumlah banyak dan melabel ulang. Strategi “White label” ini tergolong mempermudah pedagang untuk berualan pakai brand bikinan sendiri. Namun bagi manufaktur subkontraktor, memiliki peralatan dan permesinan vital di workshop dengan brand dan merek seperti itu justru menjadi hal yang buruk dihadapan main contractor dan calon konsumennya. Merek tersebut memiliki reputasi rendah dikalangan industrialis terlebih untuk beragam mesin dan perkakas kerja yang kritikal seperti mesin bubut dan milling yang dipakai terus-menerus. Hal ini cenderung merusak reputasi kredibilitas serta menjadi simbol keraguan pengusaha dalam berinvestasi.

Kehandalan suatu produk dan merek sebenarnya bisa dibuktikan dengan melihat dari jumlah komplain pengguna hoby maupun profesional dari beragam media sosial maupun forum teknik online di Indonesia. Semakin banyak komplain, ya tentunya semakin jelek kualitasnya. Tapi konsumen juga harus bisa sadar dirilah, seperti pepatah Jawa: (Ono Rupo Ono Rego) * Yang Artinya * (Ada Kualitas Pastinya Sesuai Dengan Harganya). Semoga bermanfaat. Wassalam!


Sumber: Tim Kreatif Metalextra.com,

Tulisan ini merupakan opini Pribadi di media milik sendiri.

Awalnya dipublikasikan pada24 Juni 2020 @ 3:35 AM

Tinggalkan Balasan

error: Alert: Content is protected!