SPACE X orbitkan satelit terbesar dari Asia; Satelit Republik Indonesia SATRIA-1

Satelit satria ditujukan untuk meningkatkan kualitas layanan internet publik melalui pemerataan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah 3T dan perbatasan. Melalui proyek ini diharapkan seluruh layanan pendidikan, fasilitas kesehatan, administrasi pertahanan dan keamanan, serta pemerintahan daerah di seluruh wilayah Indonesia dapat terkoneksi dengan internet. Satelit SATRIA Berkapasitas 150 Gbps dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS) frekuensi Ka-Band, dan mencapai hampir 150 ribu titik layanan publik di seluruh wilayah Indonesia. Satelit satria diproyeksikan akan mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan daerah, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI yang sulit dijangkau kabel optik.

Satelit Republik Indonesia (Satria) 1 atau Satria-1 dibangun oleh Thales Alenia Space yang bermarkas di Cannes, Prancis. SATRIA-1 merupakan satelit telekomunikasi milik Indonesia yang diluncurkan di Kennedy Space Center yang terletak di Cape CanaveralFloridaAmerika Serikat pada 18 Juni 2023 pukul 18.21 waktu Florida (EST). Satelit ini merupakan proyek Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan PT Satelit Nusantara Tiga dengan biaya yang diperkirakan mencapai US$ 450 juta atau setara dengan Rp 6,7 triliun (kurs Rp 14.977).

Satelit tersebut dibangun oleh Thales Alenia Space, sebuah perusahaan yang telah memiliki reputasi di bidang industri kendaraan antariksa. Thales Alenia Space setidaknya telah berkolaborasi dengan Indonesia dalam proyek Satelit Palapa-D dan Satelit Telkom-3S, serta Telkom 3.

Konstruksi dimulai akhir tahun 2019 dan diluncurkan pada kuartal kedua tahun 2022. Pada 2023, Satelit SATRIA diharapkan sudah dapat beroperasi untuk mendukung konektivitas layanan, serta meningkatkan ekonomi digital Indonesia. Dalam proyek Satria-1, perusahaan yang bermarkas di Cannes, Prancis itu telah membentuk konsorsium yang diberi nama Satelit Nusantara Tiga.Adapun anggota konsorsium tersebut adalah PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Pintar Nusantara, PT Nusantara Satelit Sejahtera, dan PT Dian Semesta Sentosa.

Sementara itu, konsorsium itu dipilih untuk membangun satelit tersebut untuk mewakili pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Tidak hanya Satria-1, sejumlah proyek satelit Indonesia juga telah berhasil dibangun perusahaan tersebut. Peluncuran SATRIA-1 menandai Indonesia sebagai negara pemilik satelit terbesar di Asia dan terbesar nomor 5 di dunia. Satelit ini dibangun oleh Thales Alenia Space asal Prancis, memiliki bobot 4,6 ton, dan diluncurkan ke angkasa menggunakan roket Falcon 9 setinggi 70 meter dan berbobot 580 ton milik SpaceX. Falcon 9 adalah roket yang dirancang agar dapat mendarat kembali ke bumi dan bisa digunakan kembali.

Pasca peluncurannya, satelit ini belum bisa langsung beroperasi karena harus melalui berbagai proses pengujian terlebih dahulu dan ditargetkan dapat dimanfaatkan pada Januari 2024. Satelit ini termasuk ke dalam jenis Very High Throughput Sattelite (VHTS) dengan kapasitas 150 Gbps, dan memiliki masa hidup sampai 15 tahun. BPI France dari Prancis dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dari Tiongkok adalah perusahaan sponsor mengenai porsi pendanaan.

————–

Sumber; 

spacex.com/mission/

Press release of Ministry of Communication and Information of the Republic of Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, June 2023.

Tinggalkan Balasan